Ya, skripsi. Tugas akhir wajib bagi mahasiswa S1. Kenapa sweet?
Karena dalam penyusunannya, aku banyak menemukan kejadian yang sweet, yang
menambah warna dalam kehidupanku. Kalau di kedokteran, nama skripsi itu ga popular.
Populernya disebut KTI atau Karya Tulis Ilmiah. Dan tidak setebal skripsi pada
umumnya di fakultas lain. Semua KTI anak angkatanku itu penelitian kuantitatif.
Sehingga membutuhkan responden minimal 30. Seharusnya ada cara penghitungan
samplenya.
Oke. KTIku ini berjudul
“Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Kesehatan Reproduksi dengan
Pengambilan Keputusan Aborsi Pada Unwanted
Pregnancy”. Panjang yah? Hehehe. Akhir-akhir
ini aku sendiri aja lupa sama judulku sendiri. Hehehe. Saat orang-orang tau
judul ini, aborsi? Apa ga susah? Nyari respondennya dimana? Apa mereka mau jadi
respondenmu? Itu kan aib? Bla bla bla.
Awalnya emang begitu. Serem. Takut. Susah. Alhamdulillahnya,
penelitianku ini bareng sama sohibkulah yah. Si Rr Annisa Ratnaningrum aka
dhennis. Walaupun bareng, tapi judul kita beda. Dan saat mengukur tingkat
pengetahuan kespronya, kuesionernya sama. Tapi di akhirnya beda. Aku tentang
keputusan aborsi, kalau dhen tentang kejadian PAS, post abortion syndrome. Kita
berdua selama penelitian belum selesai yaa kemana2 berdua. Tapi sebelum dan
sesudah penelitian juga bareng. Hedeh.
di sawah samping kantor samsara
suasana makan siang
Lewat LSM Samsara, LSM yang peduli tentang perempuan aborsi,
dan kespro ini, kita dapatkan responden yang sudah ataupun akan ataupun gag
jadi melakukan aborsi. SAMSARA bukan klinik aborsi loh. Samsara ini melayani konseling
pada perempuan dengan unwanted pregnancy ataupun yang sudah melakukan aborsi. Intinya
kita dapet dari samsara. Kita ga pernah ketemu langsung sama responden. Kita menghubungi
mereka melalui email, telpon dan sms. Kita beri informed consent dulu apakah
bersedia menjadi responden atau tidak. Jika bersedia, maka kita kirim
kuesionernya via email atau via pos. ada
yang bersedia, namun emailnya tidak dibales lagi, dikirim via pos tapi ada yg
ga bales juga. Setelah beberapa bulan, kita berhasil mengumpulkan 16 kuesioner
yang sudah diisi oleh responden. Padahal
yang kita butuhkan minimal 32. Akhirnya kita cari responden lagi di pantai
samas. Kenapa pantai samas? You knowlah yaa.. hehehe. ^^v
ini foto pantai samas
si dhen baru wawancara
Sebenernya, bukan jumlah responden yang jadi inti cerita
ini. Tapi apa yang aku dapet selama penelitian. Aku jadi tau kisah para wanita
yang aborsi. Daann banyak! Di kota-kota besar ataupun di desa juga ada. Kita emang
ga tau nama responden sapa, tapi kita tau usia dan asalnya. Hmm.. ternyata yang
mengalami unwanted pregnancy itu banyak. Miris dan WOW gitu. Speechless juga. Gara-gara
di samsara, aku sama dhen dapet akses masuk ke PERNAS HIV di hotel garuda
secara gratis tis tis. Di hotel inna garuda malioboro jogja.
Di pernas, ketemu sama saudara-saudara kita dari papua. Emang
kalau dari statistic tu papua tinggi sekali angka HIV-AIDSnya. Bukan karena
disana anak mudanya pada narkobaan terus ganti2an jarum suntik, bukaaann. Tapi,
karena seks bebas. Intinya, disana tu dikit2 seks. Acara adat, endingnya seks. Begitulah.
Serem yak. Shock n speechless lagi. Ternyata… huaaahh. Serba speechless.
foto sama mba inna di pernas
di depan pintu masuk
Kalau di samas, banyak ceritanya. Disana yang kumpul kebo
itu banyak. Alasannya ga kuat bayar untuk nikah. Atau cuma istri simpenan atau
istri kedua. Ternyata ada ya yang begitu? Kirain Cuma di sinetron. Kalau di
sama, kita ketemu langsung dengan responden. Bahkan ada responden yang udah
kumpul kebo, gabisa bahasa Indonesia, ga bisa baca pula. Dan dia kerjaan
sehari-hari narik kapal yang baru saja mendarat dari laut. Suaminya? Ga kerja. Huah.
Speechless lagi. Ada lagi ya yang kek gini? Padahal anaknya banyak. Huhuhuu. Sedih.
Apa coba yang bisa kita lakukan ?
Apakah gambaran perempuan-perempuan Indonesia tu
kek gini? Selain masalah kematian ibu melahirkan tinggi, ternyata ada yang lain
ya? Seperti si ibu tadi yang rela di “kumpul kebo”in tanpa dinikah resmi? Dan rela
juga dia yang bekerja sementara si bapak ngerokok aja dirumah? Ckckcck. Perempuan
itu emang super. Melahirkan sakit sampai banyak yang meninggal. Semoga yah,
kedepan ada langkah nyata untuk memperbaiki nasib perempuan Indonesia. Ga Cuma yang
di kota tapi di desa juga. amiinn !
and here we are ! my KTI.. ..
ini tambahan foto2 pas seminarr :)
sama dr upi as pembimbing dan dr alfaina as penguji


