Halaman

Rabu, 18 Juli 2012

love skripsweet :')

Ya, skripsi. Tugas akhir wajib bagi mahasiswa S1. Kenapa sweet? Karena dalam penyusunannya, aku banyak menemukan kejadian yang sweet, yang menambah warna dalam kehidupanku. Kalau di kedokteran, nama skripsi itu ga popular. Populernya disebut KTI atau Karya Tulis Ilmiah. Dan tidak setebal skripsi pada umumnya di fakultas lain. Semua KTI anak angkatanku itu penelitian kuantitatif. Sehingga membutuhkan responden minimal 30. Seharusnya ada cara penghitungan samplenya.

Oke. KTIku ini berjudul  “Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Kesehatan Reproduksi dengan Pengambilan Keputusan Aborsi Pada Unwanted Pregnancy”.  Panjang yah? Hehehe. Akhir-akhir ini aku sendiri aja lupa sama judulku sendiri. Hehehe. Saat orang-orang tau judul ini, aborsi? Apa ga susah? Nyari respondennya dimana? Apa mereka mau jadi respondenmu? Itu kan aib? Bla bla bla.

Awalnya emang begitu. Serem. Takut. Susah. Alhamdulillahnya, penelitianku ini bareng sama sohibkulah yah. Si Rr Annisa Ratnaningrum aka dhennis. Walaupun bareng, tapi judul kita beda. Dan saat mengukur tingkat pengetahuan kespronya, kuesionernya sama. Tapi di akhirnya beda. Aku tentang keputusan aborsi, kalau dhen tentang kejadian PAS, post abortion syndrome. Kita berdua selama penelitian belum selesai yaa kemana2 berdua. Tapi sebelum dan sesudah penelitian juga bareng. Hedeh.
 di sawah samping kantor samsara
suasana makan siang

Lewat LSM Samsara, LSM yang peduli tentang perempuan aborsi, dan kespro ini, kita dapatkan responden yang sudah ataupun akan ataupun gag jadi melakukan aborsi. SAMSARA bukan klinik aborsi loh. Samsara ini melayani konseling pada perempuan dengan unwanted pregnancy ataupun yang sudah melakukan aborsi. Intinya kita dapet dari samsara. Kita ga pernah ketemu langsung sama responden. Kita menghubungi mereka melalui email, telpon dan sms. Kita beri informed consent dulu apakah bersedia menjadi responden atau tidak. Jika bersedia, maka kita kirim kuesionernya via email atau via pos.  ada yang bersedia, namun emailnya tidak dibales lagi, dikirim via pos tapi ada yg ga bales juga. Setelah beberapa bulan, kita berhasil mengumpulkan 16 kuesioner yang sudah diisi oleh responden.  Padahal yang kita butuhkan minimal 32. Akhirnya kita cari responden lagi di pantai samas. Kenapa pantai samas? You knowlah yaa.. hehehe. ^^v

ini foto pantai samas
si dhen baru wawancara

Sebenernya, bukan jumlah responden yang jadi inti cerita ini. Tapi apa yang aku dapet selama penelitian. Aku jadi tau kisah para wanita yang aborsi. Daann banyak! Di kota-kota besar ataupun di desa juga ada. Kita emang ga tau nama responden sapa, tapi kita tau usia dan asalnya. Hmm.. ternyata yang mengalami unwanted pregnancy itu banyak. Miris dan WOW gitu. Speechless juga. Gara-gara di samsara, aku sama dhen dapet akses masuk ke PERNAS HIV di hotel garuda secara gratis tis tis. Di hotel inna garuda malioboro jogja.

Di pernas, ketemu sama saudara-saudara kita dari papua. Emang kalau dari statistic tu papua tinggi sekali angka HIV-AIDSnya. Bukan karena disana anak mudanya pada narkobaan terus ganti2an jarum suntik, bukaaann. Tapi, karena seks bebas. Intinya, disana tu dikit2 seks. Acara adat, endingnya seks. Begitulah. Serem yak. Shock n speechless lagi. Ternyata… huaaahh. Serba speechless.

 foto sama mba inna di pernas
di depan pintu masuk

Kalau di samas, banyak ceritanya. Disana yang kumpul kebo itu banyak. Alasannya ga kuat bayar untuk nikah. Atau cuma istri simpenan atau istri kedua. Ternyata ada ya yang begitu? Kirain Cuma di sinetron. Kalau di sama, kita ketemu langsung dengan responden. Bahkan ada responden yang udah kumpul kebo, gabisa bahasa Indonesia, ga bisa baca pula. Dan dia kerjaan sehari-hari narik kapal yang baru saja mendarat dari laut. Suaminya? Ga kerja. Huah. Speechless lagi. Ada lagi ya yang kek gini? Padahal anaknya banyak. Huhuhuu. Sedih. Apa coba yang bisa kita lakukan ?

Apakah gambaran perempuan-perempuan Indonesia tu kek gini? Selain masalah kematian ibu melahirkan tinggi, ternyata ada yang lain ya? Seperti si ibu tadi yang rela di “kumpul kebo”in tanpa dinikah resmi? Dan rela juga dia yang bekerja sementara si bapak ngerokok aja dirumah? Ckckcck. Perempuan itu emang super. Melahirkan sakit sampai banyak yang meninggal. Semoga yah, kedepan ada langkah nyata untuk memperbaiki nasib perempuan Indonesia. Ga Cuma yang di kota tapi di desa juga. amiinn ! 

and here we are ! my KTI.. ..

ini tambahan foto2 pas seminarr :)


sama dr upi as pembimbing dan dr alfaina as penguji


Recent Posts