Bagi yang udah baca part 1, mungkin bisa menilai bahwa aku
terlalu sempit memandang cinta. Cinta yang pada waktu itu berakhir dengan tidak
sesuai rencana, atau cinta yang prosesnya penuh halang rintang, yang tidak
selalu mulus atau bahagia terus.
Agaknya, menuju usiaku yang 21 ini, ada sedikit perubahan
pandangan. Walau sedikit tapi bermakna. Tssaaahhh . flashback dulu yah . saat
usiaku 19 tahun, aku dan sahabatku, Ratih sama-sama bikin perjanjian untuk diri
kita sendiri. Yaitu, kita mau tutup buku soal cinta-cinta gombal atau monyet
atau sapi atau kucing atau manusia yang telah berlalu selama ini. Kita sudah
mulai berfikir untuk menuju tujuan yang utama, yaitu yang sering disebut-sebut “menyempurnakan
separuh agama”, menuju pernikahan yang hakiki. Tsaahh lagi deh. Kapankah perjanjian
itu dimulai ? saat kita masing-masing berusia
20 tahun. Ratih, 20 tahun pada tanggal 16 April 2010 dan aku 30 Oktober 2010.
Dan ternyata, sebelum usiaku 20, tepatnya 19 tahun 8 bulan
26 hari, aku menemukan someone yang kita sebut cinta tadi. Sebenernya, perjanjian
belum berlaku buat aku. Bisa aja saat itu aku masih aja main-main, tapi gag ada
salahnya juga kan kalau memulai janji dan menepatinya lebih awal. Kebetulan cinta
ini tau tentang janji itu, jadi aku pertegaskan padanya tentang hal itu,
tentang tujuan itu. Secara dia berada di usia yang tepat mencari jodoh, dianya
malah seneng. Yes, Kita klop !
Kamu adalah
cita-citaku. Hmm . kalimat itu sering diucapkan sama dia, apalagi kalau kita
berantem. Hhay. Siapa sih yang gag luluh dibilang gitu. Tapi aku tetep donk
gengsi. Gag mau nunjukkin kalau q luluh, q tetep kekeuh marah dan gag mau
ngalah. Yah, emang. Aku yang keturunan batak sunda, punya sifat turunan dari
kedua suku itu. Batak, aku galak, tukang ngambek, gag mau ngalah, kalau g keturutan
terus emosional dan akhirnya galau. Sunda, aku centil, banyak gaya, suka
belanjaa pake duit ayah atau umi, matre dikitlah ya. Hehehe. Sama senior di
IMM, aku dibilang cewek centil tapi galak. Dua sifat yang sangat berlainan tapi
keduanya bisa jadi satu didalam diriku. Unik kan? Langka kan? Si cinta sampai
melarang aku pergi ke museum, takutnya ntar malah jadi inventaris disana. Aigoo.
Kerjaan kita ni kalau gag ece-ecean ya ngambek. Aku doank
tapi yang ngambek. Ntar dianya stress g
ketulungan soalnya kalo uda galak
so horror gitu . padahal mah biasa aja. Hihi. Piss deh yaa oppa. Bukan itunya
yang membuat kita, khusunya aku terus jadi merubah pandangan tentang cinta. Tadinya
aku memandang cinta itu ya seneng-seneng and aku yang selalu menang dan benar. Tapi
itu salah. Salah besar. Sadar bahwa kehidupan dia tidak Cuma aku. Dia yang
yatim, anak tunggal, sekarang jadi tulang punggung keluarga. Punya ibu yang
dahulunya sangat tergantung sama bapak, kalau bukan dia siapa lagi yang
menggantikan bapak ?
Seharusnya aku ini gag suka ngambek kalau dia g bisa selalu
ada buat aku. Aku masih punya ayah umi lengkap dan adek cowok satu dan juga
para kucing yang sekarang ada tujuh ekor. Tiga ekor masih bayi dan sangatt
unyuuuu. Hiiii pengen aku gigit, aku remes2 perutnya yang buntel bulet itu. Seharusnya
adalah aku bersyukur atas semuanya. Bersyukur kak. Walau saat itu tidak ada
buat aku, tapi insya Alloh di waktu yang lain, yang mungkin lebih indah. He always
there.
Pemikirannya yang kadang mungkin diluar batasku, dia yang
sangat-sangat introvert sekarang sudah mulai terbuka. Sedikit banget sih. Tapi pelan-pelan.
Terus didampingi. For cure his trauma. What kind of trauma I don’t know it yet.
He still save in his heart. Maybe, trauma with the last relationship. Maybe. Or
the other relationship. I don’t know. The most important is, how do I help him to cure his trauma.
And the problem is, my ego ! I can`t control myself to keep
my emotional. Just like boom ! always exploded ! n this is may add his trauma. Not
cure but increase. Huwaaaa .. forgive
me. I will try to decrease my ego. Now I am reading book “Quantum Ikhlas”.
Insya Alloh this can help me, help u, n sure, help us.
And last for this part,
Just say Terimakasih.
Untukmu yang selalu mengalah ..
Untukmu yang selau mendoakanku
Untukmu yang selalu mendukungku
Dan untukmu yang selalu menyayangiku
Hope, all of our dream that have we talked, become real. As soon
as possible. As our schedule. With u, always. Amin.
NB : tulisan ini bukan untuk narsis atau pamer atau mau
bikin iri orang lain. Cuma untuk berbagi pelajaran. Egois itu sangatlah buruk.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar